BANYAK orang di
Sumatera Barat (Sumbar) merisaukan akan munculnya ulama besar seperti
pernah dimiliki daerah ini tempo doeloe. Mereka punya kharismatik dan
wibawa. Masa itu belum ada fasilitas mobil atau honor “jualan”
dakwah. Tidak punya target jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang dapat
gaji setiap bulan. Kerisauan itu mengandung pesimis.
Ulama-ulama
besar tadi nyaris tidak meraih ilmu dalam kuliah pendidikan formal,
tapi kebanyakan menimba dari Syekh Ahmad Khatib al Minangkabauwy di
Makkah al Mukarramah. Syekh Ahmad Khatib sudah lama bermukim di Tanah
Suci. Di Mesir, gelar Syekh, setara dengan doktor kehomatan (honoris
causa). Sebagian besar sumber hidup mereka dari hasil pertanian
sendiri. Ada sedekah umat tapi tidak tergantung dengan itu.
Di
antara ulama besar Sumbar pada zamannya, menurut buku karya Drs.
Edward terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981, antara lain;
Syekh Ahmad Khatib (1852-1915)
Berasal Balai Gurah IV Angkat
(Agam), sedang bapaknya Khatib Nagari asal Koto Gadang Bukittinggi.
Beliau guru dari ulama-ulama besar Minangkabau seperti Karim Amarullah,
Abdullah Ahmad dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Perserikatan Muhammadiyah
asal Yogyakarta.
Beliau menonjol dalam ilmu hukum agama disamping
ilmu-ilmu lainnya. Ahmad Khatib pernah jadi Imam di Masjidil Haram,
sampai meninggal di sana.
Syekh Abdurahman (1777-1899)
Kelahiran
Batuhampar, Payakumbuh seorang ulama yang berhasil mengembangkan agama
tidak saja di Sumbar, tapi sampai ke Jambi, Palembang, dan Bengkulu. Di
antara seorang cucunya Mohammad Hatta, proklamator kemerdekaan Republik
Indonesia (RI). Abdurrahman pernah mukim di Tanah Suci tujuh tahun
menuntut ilmu agama. Waktu kembali ke Sumbar, beliau berhasil
memusnahkan secara drastis khurafat dan tahayul yang jadi prilaku
pemimpin adat memberi tahu masyarakat mana yang halal, mana yang
haram, larangan berjudi dan menyabung ayam.
Syekh Khatib Mohammad Ali (1861-1936)
Berasal
dari Muarolabuh, Solok Selatan, lama menetap di Parakgadang dan
Palinggam (Padang). Berdakwah, menegakkan syiar Islam. Beliau disegani
dan dihormati, disiplin terhadap peraturan, tidak goyah dengan prinsip.
Ulama pendekar silat ini, pernah tujuh tahun memperdalam ilmu agama
dengan guru besar Syekh Ahmad Khatib di Makkah, kemudian di Madinah.
Beliau penyayang dan pemurah, membantu orang yang butuh pertolongan.
Syekh Mohammad Djamil Djambek (1862-1947)
Lahir
di Bukittinggi. Ibu beliau berdarah campuran Betawi-Minangkabau.
Ayahnya Mohammad Saleh Datuk Maleko. Djamil pernah menuntut ilmu sihir
dan jadi “pareman”, hidup tanpa memperhatikan norma-norma sosial. Pada
suatu hari dia kesasar ke surau Angku Kayo di Mandiangin. Angku Kayo
memberi kesadaran padanya, sehingga tertarik mengaji ilmu agama dan
kehidupan sosial, serta-merta menghentikan kebiasaan mencuri, dan
merampok. Beliau ahli falaq terkenal. Walau pernah (tahun 1926)
menerima anugerah bintang dari Belanda karena berhasil membungkam
pengacau kaum komunis, beliau bergeming dibujuk.
Syekh Abbas Qadh (1285-1370)
Beliau
bernama kecil Abbas bin Wahab. Lahir di Ladanglaweh, kaki Gunung
Merapi, 4 km Bukittinggi. Guru mengajinya Syekh Angku Mudo di kampung
itu dengan sistem duduk (halaqah). Beberapa lama kemudian, Abbas
melanjutkan pendidikan ke Makkah.
Beliau pernah jadi
Mufti di Bangkok (Thailand) dan disitu pulalah beliau meninggal. Masa
hayatnya jadi pembaharu di negeri ini. Model pembaharuannya adalah
sekolah dengan sistem bangku pelajaran, tidak dengan sistem halaqah
lagi. Beliau marah jika muridnya terlambat masuk kelas. Beliaulah
yang mendirikan Perguruan Tarbiyah Islamiyah (Perti), kemudian
dikokohkan jadi partai politik oleh puteranya Sirajuddin Abbas.
Keluarganya hartawan, sehingga biaya hidup tidak tergantung pada orang
lain.
Syekh Sulaiman Ar-Rasuly (1871-1970)
Beliau
populer dengan panggilan Inyiak Canduang. Namanya melekat pada nama
negeri kelahirannya di Ampekangkek, Kabupaten Agam. Desa di kaki Gunung
Merapi ini sekitar 8 km Timur Bukittinggi. Disinilah beliau mendirikan
pesantren Tarbiyah Islamiyah yang kemudian tersohor.
Waktu
menunaikan ibadah haji di Tanah Suci tahun 1903, dimanfaatkannya
mendalami ilmu pada Syekh Ahmad Khatib. Sepulang di tanah air, langkah
pertamanya mengadakan perubahan sistem pengajaran agama, dari sistem
halaqah ke sistem kelas. Sistem ini kemudian menyeragam di madrasah
semua kampung.
Syekh Thaib Umar (1874-1920)
Lahir
08 Syawal 1291 di Sungayang, Batusangkar, ulama pertama berkhotbah
Jumat menggunakan bahasa Indonesia. Bersama dengan Syekh Karim
Amerullah dan Abdullah Ahmad, berjuang memberantas bid’ah dan khurafat
Akibat
diskriminasi bidang pendidikan pemerintah jajahan Belanda, beliau tidak
bisa masuk sekolah yang mengajarkan huruf latin, walau sudah menamatkan
baca Quran. Ayahnya Umar bin Abdul Kadir membawanya ke Tanah Suci.
Disana belajar ilmu agama dan bahasa Arab dengan Syekh Ahmad Khatib.
Sepulangnya ke tanah air dalam usia 23 tahun membangun surau sendiri di
Tanjung Pauh, Sungayang. Di antara muridnya terdapat ahli pendidikan
Islam Prof Mahmud Yunus.
Beliau bercimpung pula di dunia
jurnalistik. Sering menulis dalam majalah Al Munir Padang, majalah
Islam pertama di Minangkabau terbit tahun 1911. Beliau anggota redaksi
bersama Dr Abdul Karim Amerullah. Kepada surau-surau lain
dianjurkannya, disamping ilmu pengetahuan agama, juga mempelajari ilmu
pengetahuan umum, ashriyah, atau ilmu pengetahuan modern. Beliau
mengkritik “urang siak” yang meminta-minta beras ke kampung-kampung.
Tahun 1918 dipeloporinya khotbah Jumat, dan hari raya Idul Fitri dan
Idul Adha menggunakan bahasa Indonesia, kecuali rukun khotbah yang
harus berbahasa Arab.
Syekh Mohammad Jamil Jao
Lahir
tahun 1878, di Jao, sekitar 3 km selatan Kota Padangpanjang. Putera
Tuanku Kadhi Tambangan ini, akrab dengan Syekh Sulaiman ar Rasuly,
Karim Amarullah, Jamil Jambek, dan Ibrahim Musa Parabek. Beliau 10
tahun menutut ilmu di Makkah. Ulama ahli hukum Islam itu, tahun 1918
pulang dan bersama Sulaimen ar Rasuly mendirikan Persatuan Tarbiyah
Islamiyah (Perti). Pernah jadi Ketua Persatuan Ulama Minangkabau
Ittihadl Ulama. Beliau cakap berpidato adat (pasambahan). Beliau
pendekar silat bela diri. Di antara puteranya tiga orang jadi wartawan,
yakni Bachtiar Jamily (almarhum), Husni, dan Zubaidah.
Syekh Abdullah Ahmad (1878-1953)
Lahir
di Padangpanjang, meninggal dalam usia 50 tahun. Dikenal pula sebagai
Bapak Jurnalistik Indonesia. Nama beliau tetap abadi sebagaimana halnya
dengan warisannya perguruan Adabiah. Beliau melanjutkan cita-cita
pamannya Syekh Gapuak, membangun masjid Gantiang, yakni rumah Allah
tertua di Padang, dengan bantuan dana para saudagar.
Tokoh
pembaharuan dan mantan murid Syehk Ahmad Khatib ini, bersama Abdul
Karim Amarullah beroleh gelar kehormatan doktor dari Univewrsitas Al
Azhar Kairo, Mesir. Beliau berhasil memberantas khurafat, bid’ah,
mistik yang menyusup dalam ajaran Islam. Semuanya bukan didakwahkannya
melalui lisan di masjid atau mushalla, tapi juga memanfaatkan pers
(suratkabar al Munir terbitan Padangpanjang).
Syekh Abdul Karim Amarullah (1879-1945)
Lahir
di Sungai Batang Maninjau. Semula bernama Mohammad Rasul. Nama
tersebut ditukar setelah menunaikan ibadah haji tahun 1894. Di Makah
selama tujuh tahun, menimba ilmu pada Syehk Ahmad Khatib. Beliau
orangtua Buya Hamka, dan mertua mantan Ketua Pucuk Pimpinan
Muhammadiyah Abdul Rasjid Sutan Mansyur. Berani membuang hal-hal yang
bertentangan dengan Al Quran dan sunnah. Bersama Syekh Abdullah Ahmad
memperoleh gelar doktor honoris kausa dari Universitas Al Azhar, Kairo.
Ketika
aliran Ahmadiyah dari India masuk Minangkabau, beliau menerbitkan buku
Al Qaulul shahih (kata yang sesat) untuk menyerang faham tersebut,
mencegah perkembangannya di daerah ini. Sebaliknya membawa
Muhammadiyah dari Jawa. Tahun 1930 beliau semarakkan kongres
perserikatan ini di Bukittinggi. Beliau tak setapak pun kompromi dengan
Pemerintah Belanda. Bila sudah ada di mimbar, sekali-kali jangan
disensor pidatonya.
Terang-terangan pula menantang
pemerintah Fasis Militer Jepang yang menduduki Indonesia tahun
1942-1945 untuk melakukan sei keire, yakni menundukkan kepala ke arah
matahari terbit (Tokyo) tanda memberi hormat kepada Kaisar Hirohito
tempat tahta raja Jepang itu.
“Biar saya digantung tinggi-tinggi atau dibuang jauih-jauih, saya tidak mau melakukan,” kata Karim Amarullah tegas.
Syekh Daud Rasyidi (1880-1948)
Lahir
di Balingka, Kecamatan IV Koto Agam. Beliau orangtua kandung Mansyur
Daud Datuk Palimo Kayo, yang dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet
terakhir ulama-ulama besar Minangkabau. Inyiak Daud tak ada menempuh
pendidikan formal di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah.
Pernah jalan kaki dari kampungnya ke Kota Padang, dibekali ketrampilan
menjahit, mengaji di beberapa surau Sumatera Barat. Akhirnya pada
Syekh Ahmad Khatib di Mekah selama empat tahun, untuk ilmu tasauf,
fiqih, tauhid dan bahasa Arab.
Tahun 1903 membuka
pengajian di masjid Jembatan Besi Padangpanjang. Masjid ini kemudian
menjelma jadi Sumatera Thawalib. Waktu itu penyakit kolera dan cacar
mewabah disini. Puluhan korban meninggal setiap hari. Dikubur begitu
saja, tanpa dimandikan, dikafani dan disembahyangkan. Kata beliau,
“Umat
Islam akan menerima dosa karena tidak melaksanakan fardhu kifayah”.
Dengan berani beliau menyuruh bongkar kembali kuburan mayat-mayat tadi.
Namun, ditantang Asisten Residen Padangpanjang sebagai penguasa. Tapi
akhirnya tuntutan Syekh Daud dikabulkan. Sebelum dikubur kembali,
semua diproses menurut ajaran Islam. Beliau menantang membayar pajak
(belasting) kepada Pemerintah Belanda.
Syekh Ibrahim Musa (1882-1963)
Lahir
12 Syawal 1301. Setelah menjadi ulama besar, nama kampungnya melekat
pada beliau, dan tersohorlah sebagai Inyiak Parabek. Beliau sebelumnya
mengaji di beberapa surau di Sumatera Barat, tahun 1320 Hijriah
menyambung ke Makkah belajar selama 6,5 tahun pada Syekh Ahmad Kathib.
Belum puas, tahun 1333 kembali lagi kesitu untuk memperdalam ilmu.
Waktu
perang dunia pertama pecah, beliau kembali ke Parabek Bukittinggi dan
singgah lebih dulu di India. Di Parabek bersama dengan murid-murinya
membentuk persatuan pelajar Muzakaratul Ikhwan, wadah untuk
memperdebatkan berbagai masalah.
Wadah ini kemudian
menjelma jadi Sumatera Thawalib School. Pesantren termasyhur ke
seantero nusantara. Sistem belajar dari halaqah menjadi sistem
klasikal, berkelas-kelas. Disamping ilmu pengetahuan agama, diajarkan
pula bahasa Inggris dan bahasa Belanda, ilmu ukur, aljabar, kopersi dan
lain-lain. Para guru tidak pakai sarung, disuruh pakai pantalon. jas,
dasi dan sepatu. Pemerintah Belanda menawarkan sejumlah uang subsidi,
namun Inyiak Parabek menolak mentah-mentah.
Syekh Abbas Abdullah (1883-1957)
Dilahirkan,
dibesarkan dan mengabdi di negeri sendiri, Padangjapang (Suliki),
Payakumbuh. Nama negeri tersebut melekat pada kepopuleran nama beliau
Inyiak Abbas Padang Japang. Ayah beliau Syekh Abdullah pernah terlibat
dalam Perang Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Ketika Abbas berusia
13 tahun, ikut paman ke Tanah Suci. Usai menunaikan ibadah haji, Abbas
tidak mau pulang, minta tinggal sendirian, lalu belajar dengan Syekh
Ahmad Khatib selama delapan tahun. Tahun 1924, sebelum pulang ke tanah
air, mengembara ke Mesir, Palestina, Libanon, Siria dan Swis di Eropa.
Pulang mengangkut buku-buku besar. Di kampung ditugaskan ayahnya jadi
guru bantu Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Haji Agus Salim (1884-1964)
Lahir
8 Oktober 1884 di Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi. Dengan
nama yang diberikan ayahnya Masyhudul Haq. Negeri ini penuh melahirkan
kaum intelektual. Selain H Agus Salim, banyak lagi pemimpin bangsa asal
negeri ini, seperti Perdana Menteri Pertama RI Sutan Sjahrir, Emil
Salim, dan lain-lain. Orangtua Inyiak Agus, Sutan Mohammad Salim,
seorang Jaksa.
Beliau ulama jenius. Mahasiswa Cornell
Uniuversity (Amerika) Harry J Benda waktu beliau memberi kuliah disana
langsung mengggelari Grand Old Man, bisa diterjemahkan sebagai Orang
Tua Cemerlang. Delapan anak beliau tidak pernah masuk sekolah formal,
tapi diajar sendiri di rumah. Seorang di antaranya Kolonel Islam Salim,
pernah jadi atase militer Indonesia di Cina.
Mula masuk
sekolah di Europesche Lager School (ELS) Kotogadang dan tamat tahun
1898. Terus menyambung ke Hoogere Burger School (HBS) di Jakarta, tapi
gagal meneruskan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandshe).
Kegagalan masuk sekolah pamong ini menimbulkan kebenciannya terhadap
Pemerintah Belanda. Dendamnya bekerjasama dengan Belanda beliau
nyatakan: “Biar makan krekel dari pada menerima tawaran bekerkja dengan
Belanda.”
Tapi pada satu kali ibunya memaksa bekerja di konsulat
Belanda di Saudi Arabia, maka kesempatan itu dimanfaatkan mendalami
agama pada sepupunya Syekh Ahmad Khatib, yang lebih dulu menetap di
Masjidil Haram.
Awal kemerdekaan RI beliau memimpin misi
ke beberapa negara Timur Tengah. Hasilnya RI memperoleh pengakuan de
jure dari negara-negara tersebut. Beliau pernah beberapa kali jadi
Menteri Luar Negeri.
Syekh Zainuddin Labay el Yunusy (1890-1924)
Lahir
di Lubuk Mata Kucing, Padang panjang, 12 Rajab 1308. Labai, panggilan
terhormat bagi seorang yang alim, sedang Yunusy, nama orangtuanya
Yunus. dikenal sebagai Tuanku Pandai Sikek, desa asal beliau di kaki
gunung Singgalang. Beliau anak sulung pasangan Yunus dan Rafi’ah,
sedang adik kedua Rahmah yang kemudian populer dengan nama Sitti Rahmah
el Yunusiyah, pendiri sekolah Diniyah Puteri Padangpanjang. Zainuddin
mendirikan sekolah Diniyah School tahun 1916 ketika berusia 26 tahun.
Nama
sekolahnya kombinasi bahasa Arab dan Belanda, untuk memberi gambaran
ide pembaharuan Sistem pendidikannya, gandrung modern. Beliau pun
merevolusikan sistem halaqah ke sistem klasikal. Guru tidak pakai
sarung lagi. berkopiah tarbusy, dan sandal, tapi pakai pantalon, jas,
dasi, dan bersepatu. Beliau pun menolak tawaran uang subsidi
Pemerintah Belanda.
Syehk Abdul Hamid Hakim (1893-1959)
Beliau
kemudian populer dengan nama Angku Mudo Hamid. Lahir di Sumpu, tepi
danau Singkarak tahun 1311 H atau 1893 M. Ikut ayah seorang pedagang ke
Kota Padang. Disini ia masuk Sekolah Dasar (SD) dan setamatnya kembali
ke kampung belajar tulis-baca Al Quran, lalu melanjutkan dua tahun di
Sungayang belajar pada Syekh Mohammad Thaib Umar.
Ketika
berusia 16 tahun, belajar ke Maninjau pada Syekh Karim Amarullah.
Ketika itu tahun 1910, dengan Syekh Amarullah juga, pindah ke Padang,
dimana orangtuanya berdagang di kota ini. Waktu Amarullah pindah lagi
ke Padangpanjang, Hamid tetap ikut. Diangkat jadi guru bantu di masjid
Jembatan Besi. Sejak itulah beliau dipanggil sebagai Angku Mudo. Ahli
fiqih (hukum Islam) ini kemudian diangkat jadi Guru Kepala, mengganti
Syekh Abdul Karim Amarullah karena doktor ini pindah ke Jakarta.
Pernah
seorang reserse bertanya kepada beliau: “Kenapa murid aktif dalam dunia
politik? Entahlah, saya juga heran. Satu saya ajarkan, empat mereka
dapat. Saya tak pernah menyuruh mereka aktif dalam politik,” jawab
Angku Mudo.
Murid beliau antara lain; Sutan Mansyur,
mantan Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad mantan
Wakil Ketua Parlemen, Buya Datuk Palimo Kayo, ulama/sastrawan besar
Hamka, Muchtar Yahya, guru besar IAIN Yogya, Ali Hasymi mantan Gubernur
Aceh, dan tokoh politik singa betina Rasuna Said.
Syeikhah Rahmah el Yunusyiah (1900-1969)
Lahir
26 Oktober 1900. Beliau adalah adik kandung Zainuddin Labay el Yunusy.
Tahun 1915 mendirikan lembaga pendidikan khusus puteri Diniyah Putri.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan Islam seperti ikut jejak kakaknya.
Murid-muridnya datang dari seantero Sumatera Barat. Juga dari provinsi
lain, bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan
Singapura.
Beliau tidak menutup pintu untuk ilmu
pengetahuan modern. Disini tidak hanya diajarkan pengetahuan agama,
juga keterampilan jahit-menjahit dan masak-memasak, sehingga kelak
mereka jadi ibu rumah tangga Islami. Tahun 1955 Rektor Universitas Al
Azhar Kairo, pernah mengunjungi Diniyah Puteri. Kunjungan ini dapat
balasan. Tahun 1956, Rahmah diundang ke Mesir.
Syekh Zainuddin Hamidy (1907-1957)
Setelah
tamat sekolah Governement (Sekolah Dasar lima tahun) di Payakumbuh,
melanjutkan pendidikan di Madrasah Darul Funuin Padangjapang, Suliki.
Beliau murid terpandai di madrasah tersebut. Tahun 1927 lebih kurang
lima tahun melanjutkan ke Mahad Islamy Makkah. Beliau siswa
Indonesia pertama disini. Karena pintar, beroleh pula beasiswa.
Tahun
1932, Zainuddin pulang kampung ke Payakumbuh. Dalam usia 25 tahun
dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai ilmu. Hafal Al Quran
(hafizh), ahli hadist, tafsir, tauhid dan fiqih, sehingga beliau dapat
julukan Angku Mudo. Beliau membuka perguruan Mahad Islamy, nama
kenangan tempat beliau belajar di Makkah dulu.
Mahad
Islamy berkembang dengan pesat. Selain siswanya datang dari berbagai
negeri di Sumbar, juga banyak dari Malaysia, dan Riau. Masyarakat
ringan memberi bantuan wakaf dan beberapa orang sebagai donatur.
Namun, sebaliknya datang hambatan pihak pemerintah jajahan. Cemburu
karena sukses. Ada di antara gurunya Johar Arifin dikenakan tidak
boleh mengajar. Bila menghadapi masalah yang amat sulit, pendapat
Zainuddin Hamidy jadi qaulun fashlun (kata pemutus).
Syekh Nazaruddin Thaha (1908-1979)
Lahir
4 Maret 1908 di Payakumbuh, putera tertua Syekh Thaha Arsyad. Setelah
tamat Sekolah Dasar Sambungan, melanjutkan ke Madrasah Sumatra Thawalib
Darul Funun Padangjapang. Tahun 1926 masuk perguruan tinggi Darul Ulum
dan Universitas al Azhari Kairo, seangkatan Mahmud Yunus, Muchtar Yahya
dan lain-lain.
Selama lebih kurang tujuh tahun di Mesir,
beliau aktif di Persatuan Pelajar Indonesia-Malaysia (Perpidom),
organisasi pergerakan untuk merebut kemerdekaan tanah air. Pulangnya
sebagian besar putera-putera Minang tahun 1930-an, membawa angin segar
dunia pendidikan di daerah ini.
Tahun 1946, Nazaruddin
Thaha ditunjuk pertama kali mengepalai Kantor Agama Sumatera Tengah,
meliputi daerah kerja Sumbar, Jambi dan Riau. Beliau membentuk Kantor
Urusan Agama (KUA) di daerah-daerah. Pada waktu itu pulalah pengarang
buku-buku agama dalam bahasa Arab ini, merancang Undang-undang
Perkawinan. Buku-buku tersebut antara lain Abthalul Islam, al
Mahfuzadzat, Fanuttarbiyah, dan lain-lain.
Oleh: Marthias Dusky Pandoe
sumber:http://www.facebook.com/?ref=logo#!/notes/minangkabau/risau-siapa-pelanjut-ulama-besar-minangkabau/485735274591