Fokker, ternyata lahir di Indonesia





Masih ingat dengan Pesawat Fokker 27-500 milik TNI Angkatan Udara (TNI AU), Kamis (21/6/2012)  jatuh di kawasan perumahan Komplek Rajawali, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.
Pesawat ini merupakan varian dari Fokker 27 yang dikembangkan oleh perusahaan pesawat terbang asal Belanda, Fokker, sejak 1950-an. Perusahaan tersebut didirikan oleh Anthony Fokker pada tahun 1912.
Fokker 27 (F27) merupakan pesawat bermesin turboprop pengganti pesawat Douglas DC3. Prototipe pertama terbang pada 24 November 1955. Adapun produksi komersial pertama adalah F27-100, pada November 1958, untuk maskapai Aer Lingus. Pesawat ini merupakan pesawat turboprop yang paling laris di dunia, dengan hampir 800 juta unit dijual dari rentang tahun 1958 hingga 1986.

Anthony Herman Gerard Fokker (lahir di Blitar, 6 April 1890 – meninggal di New York City, 23 Desember 1939 pada umur 49 tahun) adalah seorang insinyur Belanda.Ia paling terkenal karena pesawat tempur yang diproduksi di Jerman selama Perang Dunia Pertama sepertiEindecker monoplanes, para triplane Fokker dan D.VII Fokker , tetapi setelah runtuhnya Jerman Fokker pindah bisnisnya ke Belanda dan perusahaannya bertanggung jawab untuk berbagai pesawat sukses termasuk Fokker.

Anthony (Tony) Fokker lahir di Blitar (maka Hindia Belanda , sekarang Indonesia ), Herman Fokker, Anak dari pemilik perkebunan kopi Belanda  . Beberapa sumber mengatakan bahwa ia lahir di Kediri . Saat itu, Blitar merupakan bagian dari 'Eks Karesidenan Kediri', sebuah divisi administratif kolonial yang modalnya berada di Kediri. Ketika Fokker empat keluarga kembali ke Belanda dan menetap di Haarlem dalam rangka memberikan Fokker dan kakaknya, Toos, dengan didikan Belanda.
Fokker bukan cowok rajin dan tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya tetapi ia menunjukkan minat awal dalam mekanika, dan hal membuat pilihan, bermain dengan model kereta api dan uap engines.and bereksperimen dengan desain model pesawat. Ia mengabdikan upaya untuk pengembangan roda yang tidak akan menderita tusukan, pada dasarnya sebuah roda dengan perimeter yang dibentuk oleh serangkaian pelat logam, ide ini telah bereksperimen dengan di tempat lain dan sudah dipatenkan.

sumber:
kompas.com
wikipedia
dan lain-lain









Inilah Perancang Lambang RI yang Terlupakan



Sultan Hamid II Pencipta Lambang Negara RI Burung Garuda

SEPANJANG orang Indonesia, siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?

Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.

Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel.

Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar karena tidak mengikut sertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota.

Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara.

Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila.

Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan.
Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan.
Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951.

Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan.

Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.


Sultan Hamid II Pencipta Burung Garuda
Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak, Kalbar ini adalah pencipta Burung Garuda. Sultan Hamid juga orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer.

Pontianak: Nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie memang kurang dikenal di Tanah Air. Padahal, tokoh nasional dari Pontianak, Kalimantan Barat ini adalah pencipta lambang negara Indonesia, Burung Garuda.

Selain pencipta lambang negara, Syarif yang bergelar Sultan Hamid Alkadrie II dan Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu mayor jendral.

Sultan Hamid membuat lambang negara berdasarkan penugasan Presiden Sukarno pada 1950. Saat itu dia menjabat menteri tanpa porto folio. Rekannya, Muhammad Yamin sebenarnya juga membuat rancangan lambang negara, Namun, Sukarno akhirnya memilih rancangan Sultan Hamid. Setelah disempurnakan, gambar Burung Garuda diresmikan Sukarno sebagai lambang negara pada 10 Februari 1950.

Salinan sketsa Burung Garuda yang tersimpan di Keraton Kadriah, Pontianak ini menunjukkan proses pembuatan lambang negara sangat rumit hingga harus diubah berkali-kali.

sumber:http://www.facebook.com/notes/minangkabau/inilah-perancang-lambang-ri-yang-terlupakan/382771544591

The Kop and The Kop Pledge


1) ‘Kop’ adalah salah satu sektor/teras penonton berdiri, yang kecuraman nya mirip Bukit tempat pertempuran Spion Kop, Jan 1990.
2) Hampir di semua stadion olahraga di UK ada bagian berdiri, yang sebenarnya dapat dinamai The (Spion) Kop.
3) Namun Anfield lah yang pertama kali secara resmi menggunakan nama ‘Spion Kop’ utk menamai sektor penonton yg berdiri (teras).
4) Adalah Ernest Jones dari Liverpool Echo yang pertama kali mengusulkan nama tersebut. Dan nama ‘Kop’ juga dipakai di banyak stadion di UK.
5) tapi karena Anfield pengguna pertama dan paling terkenal, maka ‘The (Spion) Kop’ identik dengan Liverpool FC.

6) Sejak tragedi Hillsborough (1989) , demi keselamatan, semua sektor berdiri di stadion Inggris ditiadakan, harus diberi kursi.
7) ada 4 bagian sektor tempat duduk di Anfield; Main Stand, Anfield Road, Centenary Stand, dan Kop Stand, yang dianggap paling militan.
8 ) Saking angkernya, The Kop dianggap menghisap bola ke arah gawang lawan di dekat mereka. agak lebay sih, tapi namanya juga ungkapan
9) jadi cukup penting bagi Liverpool untuk memainkan babak pertama menyerang ke arah The Kop, untuk mencetak gol awal.
10) The Kop juga mempunyai kebiasaan untuk memberi applause ke kiper lawan yang menjaga gawang dekat sektor itu. Pepe & Brad Jones terkesan.
11) The Kop bisa dianggap sebagai sektor yg memimpin suporter di sektor2 lainnya dalam mendukung Liverpool dengan Liverpool-Way nya.
12) rangkuman ‘bagaimana menjadi pendukung Liverpool yang sesungguhnya’ itu terangkum dalam Kop Pledge:
12.1) SELALU mendukung klub, seburuk apa pun mereka bermain.
12.2) saat team bermain buruk, bernyanyilah lebih keras, karena saat itulah mereka sangat membutuhkan dukungan kita lebih banyak.
12.3) jika ada pemain yang bermain buruk, nyanyikanlah namanya. dia sangat membutuhkannya.
12.4) jika lawan bermain bagus, berikanlah apresiasi dan kredit yang memang layak mereka dapatkan.
13) tahun 2007, kampanye Reclaim The Kop digencarkan lagi untuk mengingatkan nilai nilai Liverpool Way. bisa dilihathttp://bit.ly/e2UWKp
14) ini beberapa poin dari RTK: -DO sing unique Liverpool songs – DO applaud the opposition’s goalkeeper, its respectful and The Kop’s way.
14.1) – DO honour, respect and remember the Hillsborough disaster and those who died on April 15th 1989 – DO NOT purchase the Sun newspaper.
14.2) DO sing Youll Never Walk Alone – loud and proud.
15) kira2 begitulah tentang The (Spion) Kop. Media di sini menganggap The Kop julukan utk LFC, yg sebenarnya merujuk kepada supporternya.
Fans LFC khususnya The Kop memang selalu terkenal kreatif dan inspiratif, sampai ada istilah “you get your education from the kop”.
” Ketika Rafa minta saya bergabung dgn LFC, hal pertama yg saya ingat adalah saat Kop memberi applause untuk saya sebagai kiper lawan. Awalnya saya sangka applause itu utk pemain LFC, tapi ketika saya menoleh tidak ada siapa-siapa, baru saya sadar itu untuk saya. Ketika saya memberi applause balik, The Kop pun bersorak. Luar biasa. Saya tidak pernah melihat hal ini dimanapun sebelumnya.” kata Pepe Reina yang pernah bermain vs Liverpool di Anfield di semifinal UEFA Cuo 00-01 saat masih berusia 18 thn.

Siapa Pelanjut Ulama Besar Minangkabau??

BANYAK orang di Sumatera Barat (Sumbar) merisaukan akan munculnya ulama besar seperti  pernah dimiliki daerah ini tempo doeloe.  Mereka punya kharismatik dan wibawa. Masa itu belum ada fasilitas mobil atau  honor  “jualan” dakwah. Tidak punya target jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang dapat gaji setiap bulan. Kerisauan itu mengandung pesimis.

Ulama-ulama besar tadi nyaris tidak meraih ilmu dalam kuliah  pendidikan formal, tapi kebanyakan menimba dari Syekh Ahmad Khatib al Minangkabauwy di Makkah al Mukarramah. Syekh Ahmad Khatib sudah lama bermukim di Tanah Suci. Di Mesir, gelar Syekh, setara dengan doktor kehomatan (honoris causa). Sebagian besar sumber hidup mereka dari hasil pertanian sendiri. Ada sedekah umat tapi tidak tergantung dengan itu.

Di antara  ulama besar Sumbar pada zamannya, menurut buku karya  Drs. Edward terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981,  antara lain; Syekh Ahmad Khatib (1852-1915)
Berasal Balai Gurah IV Angkat (Agam), sedang bapaknya Khatib Nagari asal  Koto Gadang Bukittinggi. Beliau guru dari ulama-ulama besar Minangkabau seperti Karim Amarullah, Abdullah Ahmad dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Perserikatan Muhammadiyah asal Yogyakarta.
Beliau menonjol dalam ilmu hukum agama disamping ilmu-ilmu lainnya. Ahmad Khatib  pernah jadi Imam  di Masjidil Haram, sampai meninggal di sana.

Syekh Abdurahman (1777-1899)
Kelahiran Batuhampar, Payakumbuh seorang ulama yang berhasil mengembangkan agama tidak saja di Sumbar, tapi sampai ke Jambi, Palembang, dan Bengkulu. Di antara seorang cucunya Mohammad Hatta, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Abdurrahman pernah mukim di Tanah Suci tujuh tahun menuntut ilmu agama. Waktu kembali ke Sumbar, beliau berhasil memusnahkan secara drastis khurafat dan tahayul yang jadi prilaku pemimpin adat  memberi tahu masyarakat mana yang halal, mana yang haram, larangan berjudi dan menyabung ayam.

Syekh Khatib Mohammad Ali (1861-1936)
Berasal dari Muarolabuh, Solok Selatan, lama menetap di Parakgadang dan Palinggam (Padang). Berdakwah, menegakkan syiar Islam. Beliau disegani dan dihormati, disiplin terhadap peraturan, tidak goyah dengan prinsip. Ulama pendekar silat ini, pernah tujuh tahun  memperdalam  ilmu agama dengan guru besar  Syekh Ahmad Khatib di Makkah, kemudian di Madinah. Beliau penyayang dan pemurah, membantu  orang yang butuh pertolongan.

Syekh Mohammad Djamil Djambek (1862-1947)
Lahir di Bukittinggi. Ibu beliau berdarah campuran Betawi-Minangkabau. Ayahnya Mohammad Saleh Datuk Maleko. Djamil pernah menuntut ilmu sihir dan jadi “pareman”, hidup tanpa memperhatikan norma-norma sosial. Pada suatu hari dia kesasar ke surau Angku Kayo di Mandiangin. Angku Kayo memberi kesadaran padanya, sehingga  tertarik mengaji ilmu agama dan kehidupan sosial, serta-merta menghentikan kebiasaan mencuri, dan merampok. Beliau ahli falaq terkenal. Walau pernah (tahun 1926) menerima anugerah bintang dari Belanda karena berhasil membungkam pengacau kaum komunis, beliau bergeming dibujuk.

Syekh Abbas Qadh (1285-1370)
Beliau bernama kecil Abbas bin Wahab. Lahir di Ladanglaweh, kaki Gunung Merapi, 4 km Bukittinggi. Guru mengajinya Syekh Angku Mudo di kampung itu dengan sistem duduk (halaqah). Beberapa lama kemudian, Abbas melanjutkan pendidikan ke  Makkah.

Beliau pernah jadi Mufti di Bangkok (Thailand) dan disitu pulalah beliau meninggal. Masa hayatnya  jadi pembaharu di negeri ini. Model pembaharuannya adalah sekolah dengan sistem bangku pelajaran, tidak dengan sistem halaqah lagi. Beliau  marah jika muridnya terlambat masuk kelas. Beliaulah yang  mendirikan Perguruan Tarbiyah Islamiyah (Perti),  kemudian dikokohkan jadi partai politik oleh puteranya Sirajuddin Abbas. Keluarganya hartawan, sehingga biaya hidup tidak tergantung  pada orang lain.

Syekh Sulaiman Ar-Rasuly (1871-1970)
Beliau populer dengan panggilan Inyiak Canduang. Namanya  melekat pada nama negeri kelahirannya di Ampekangkek, Kabupaten Agam. Desa di kaki Gunung Merapi ini sekitar 8 km Timur Bukittinggi. Disinilah beliau mendirikan pesantren Tarbiyah Islamiyah yang kemudian  tersohor.

Waktu menunaikan ibadah haji di Tanah Suci tahun 1903, dimanfaatkannya mendalami ilmu pada Syekh Ahmad Khatib. Sepulang di tanah air, langkah pertamanya mengadakan perubahan sistem pengajaran agama, dari sistem halaqah ke sistem kelas. Sistem ini kemudian menyeragam di madrasah semua kampung.

Syekh Thaib Umar (1874-1920)
Lahir 08 Syawal 1291 di Sungayang, Batusangkar, ulama pertama berkhotbah Jumat menggunakan bahasa Indonesia. Bersama dengan Syekh Karim Amerullah dan Abdullah Ahmad, berjuang memberantas bid’ah dan khurafat

Akibat diskriminasi bidang pendidikan pemerintah jajahan Belanda, beliau tidak bisa masuk sekolah yang mengajarkan huruf latin, walau sudah menamatkan baca Quran. Ayahnya Umar bin Abdul Kadir membawanya ke Tanah Suci. Disana belajar ilmu agama dan bahasa Arab dengan Syekh Ahmad Khatib. Sepulangnya ke tanah air dalam usia 23 tahun membangun surau sendiri di Tanjung Pauh, Sungayang. Di antara muridnya terdapat ahli pendidikan Islam Prof Mahmud Yunus.

Beliau  bercimpung pula di dunia jurnalistik. Sering menulis dalam majalah Al Munir Padang, majalah Islam pertama di Minangkabau terbit tahun 1911. Beliau anggota redaksi bersama Dr Abdul Karim Amerullah. Kepada surau-surau lain dianjurkannya, disamping ilmu pengetahuan agama, juga mempelajari ilmu pengetahuan umum, ashriyah, atau ilmu pengetahuan modern. Beliau mengkritik “urang siak” yang meminta-minta beras ke kampung-kampung.  Tahun 1918 dipeloporinya khotbah Jumat, dan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha menggunakan bahasa Indonesia, kecuali rukun khotbah yang harus berbahasa Arab.

Syekh Mohammad Jamil Jao
Lahir tahun 1878, di Jao, sekitar 3 km selatan Kota Padangpanjang. Putera Tuanku Kadhi Tambangan ini, akrab dengan  Syekh Sulaiman ar Rasuly, Karim Amarullah, Jamil Jambek, dan Ibrahim Musa Parabek. Beliau 10 tahun menutut ilmu di Makkah. Ulama  ahli hukum Islam itu, tahun 1918 pulang dan bersama Sulaimen ar Rasuly  mendirikan  Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Pernah jadi Ketua Persatuan Ulama Minangkabau Ittihadl Ulama. Beliau cakap  berpidato adat (pasambahan). Beliau pendekar silat bela diri. Di antara puteranya tiga orang jadi wartawan, yakni Bachtiar Jamily (almarhum), Husni, dan Zubaidah.

Syekh Abdullah Ahmad (1878-1953)
Lahir di Padangpanjang, meninggal dalam usia 50 tahun. Dikenal pula sebagai Bapak Jurnalistik Indonesia. Nama beliau tetap abadi sebagaimana halnya dengan warisannya  perguruan Adabiah. Beliau melanjutkan cita-cita pamannya Syekh Gapuak, membangun masjid Gantiang, yakni rumah Allah tertua  di Padang, dengan bantuan dana para saudagar.

Tokoh pembaharuan dan mantan murid Syehk Ahmad Khatib ini, bersama Abdul Karim Amarullah beroleh gelar kehormatan doktor dari Univewrsitas Al Azhar Kairo, Mesir. Beliau berhasil memberantas khurafat, bid’ah, mistik yang menyusup dalam ajaran Islam. Semuanya  bukan didakwahkannya melalui lisan di masjid atau mushalla, tapi juga memanfaatkan pers (suratkabar al Munir terbitan Padangpanjang).

Syekh Abdul Karim Amarullah (1879-1945)
Lahir di Sungai Batang Maninjau. Semula  bernama Mohammad Rasul. Nama tersebut ditukar setelah menunaikan ibadah haji tahun 1894. Di Makah selama tujuh tahun, menimba ilmu pada Syehk Ahmad Khatib. Beliau orangtua Buya Hamka, dan mertua mantan Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah Abdul Rasjid Sutan Mansyur. Berani membuang hal-hal yang bertentangan dengan Al Quran dan sunnah. Bersama Syekh Abdullah Ahmad memperoleh gelar doktor honoris kausa dari Universitas Al Azhar, Kairo.

Ketika aliran Ahmadiyah dari India masuk Minangkabau, beliau menerbitkan buku Al Qaulul shahih (kata yang sesat) untuk menyerang faham tersebut, mencegah perkembangannya di daerah ini. Sebaliknya membawa  Muhammadiyah dari Jawa. Tahun 1930 beliau semarakkan kongres perserikatan ini di Bukittinggi. Beliau tak setapak pun kompromi dengan Pemerintah Belanda. Bila sudah ada di mimbar, sekali-kali jangan disensor pidatonya.

Terang-terangan pula menantang pemerintah Fasis Militer Jepang yang menduduki Indonesia tahun 1942-1945 untuk melakukan sei keire, yakni menundukkan kepala  ke arah matahari terbit (Tokyo) tanda memberi hormat kepada Kaisar Hirohito  tempat tahta raja Jepang itu.

“Biar saya digantung tinggi-tinggi atau dibuang jauih-jauih, saya tidak mau melakukan,” kata Karim Amarullah tegas.

Syekh Daud Rasyidi (1880-1948)
Lahir di Balingka, Kecamatan IV Koto Agam. Beliau orangtua kandung Mansyur Daud Datuk Palimo Kayo, yang dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet terakhir ulama-ulama besar Minangkabau. Inyiak Daud tak ada menempuh pendidikan formal di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah. Pernah jalan kaki dari kampungnya ke Kota Padang, dibekali ketrampilan menjahit, mengaji di beberapa surau Sumatera Barat. Akhirnya  pada Syekh Ahmad Khatib di Mekah selama empat tahun, untuk ilmu tasauf, fiqih, tauhid dan bahasa Arab.

Tahun 1903 membuka pengajian di masjid Jembatan Besi Padangpanjang. Masjid ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib. Waktu itu penyakit kolera dan cacar mewabah disini. Puluhan korban meninggal setiap hari. Dikubur begitu saja, tanpa dimandikan, dikafani dan disembahyangkan. Kata beliau,

“Umat Islam akan menerima dosa karena tidak melaksanakan fardhu kifayah”. Dengan berani beliau menyuruh bongkar kembali kuburan mayat-mayat tadi. Namun, ditantang Asisten Residen Padangpanjang sebagai penguasa. Tapi akhirnya tuntutan Syekh Daud  dikabulkan. Sebelum dikubur kembali, semua diproses menurut ajaran Islam. Beliau menantang membayar pajak (belasting) kepada Pemerintah Belanda.

Syekh Ibrahim Musa (1882-1963)
Lahir 12 Syawal 1301. Setelah menjadi ulama besar, nama kampungnya melekat pada beliau, dan tersohorlah sebagai Inyiak Parabek. Beliau sebelumnya  mengaji di beberapa surau di Sumatera Barat, tahun 1320 Hijriah menyambung ke Makkah belajar selama 6,5 tahun pada Syekh Ahmad Kathib. Belum puas, tahun 1333 kembali lagi kesitu untuk memperdalam ilmu.

Waktu perang dunia pertama pecah, beliau kembali ke Parabek Bukittinggi dan singgah lebih dulu di India. Di Parabek bersama dengan murid-murinya membentuk persatuan pelajar Muzakaratul Ikhwan, wadah untuk memperdebatkan berbagai masalah.

Wadah ini kemudian menjelma jadi Sumatera Thawalib School. Pesantren  termasyhur ke seantero nusantara. Sistem belajar dari halaqah menjadi sistem klasikal, berkelas-kelas. Disamping ilmu pengetahuan agama, diajarkan pula bahasa Inggris dan bahasa Belanda, ilmu ukur, aljabar, kopersi dan lain-lain. Para guru tidak pakai sarung, disuruh pakai pantalon. jas, dasi dan sepatu. Pemerintah Belanda menawarkan sejumlah uang subsidi, namun Inyiak Parabek menolak mentah-mentah.

Syekh Abbas Abdullah (1883-1957)
Dilahirkan, dibesarkan dan mengabdi di negeri sendiri, Padangjapang (Suliki), Payakumbuh. Nama negeri tersebut melekat pada kepopuleran nama beliau  Inyiak Abbas Padang Japang. Ayah beliau Syekh Abdullah pernah terlibat dalam Perang Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Ketika Abbas berusia 13 tahun, ikut paman ke Tanah Suci. Usai menunaikan ibadah haji, Abbas tidak mau pulang, minta tinggal sendirian, lalu belajar dengan Syekh Ahmad Khatib selama delapan tahun. Tahun 1924, sebelum pulang ke tanah air, mengembara ke Mesir, Palestina, Libanon, Siria dan Swis di Eropa. Pulang  mengangkut buku-buku besar. Di kampung ditugaskan ayahnya jadi guru bantu  Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

Haji Agus Salim (1884-1964)
Lahir 8 Oktober 1884 di Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi. Dengan nama yang diberikan ayahnya Masyhudul Haq. Negeri ini penuh melahirkan kaum intelektual. Selain H Agus Salim, banyak lagi pemimpin bangsa asal negeri ini, seperti Perdana Menteri Pertama RI Sutan Sjahrir, Emil Salim, dan lain-lain. Orangtua Inyiak Agus, Sutan Mohammad Salim, seorang Jaksa.

Beliau ulama jenius. Mahasiswa Cornell Uniuversity (Amerika) Harry J Benda waktu beliau memberi kuliah disana langsung  mengggelari  Grand Old Man, bisa diterjemahkan sebagai Orang Tua Cemerlang. Delapan anak beliau tidak pernah masuk sekolah formal, tapi diajar sendiri di rumah. Seorang di antaranya Kolonel Islam Salim, pernah jadi atase militer Indonesia di Cina.

Mula masuk sekolah di Europesche Lager School (ELS) Kotogadang dan tamat tahun 1898. Terus menyambung ke Hoogere Burger School (HBS) di Jakarta, tapi gagal meneruskan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandshe). Kegagalan masuk sekolah pamong ini menimbulkan kebenciannya terhadap Pemerintah Belanda. Dendamnya bekerjasama dengan Belanda beliau nyatakan: “Biar makan krekel dari pada menerima tawaran bekerkja dengan Belanda.”
Tapi pada satu kali ibunya memaksa  bekerja di konsulat Belanda di Saudi Arabia, maka kesempatan itu dimanfaatkan mendalami agama pada sepupunya Syekh Ahmad Khatib, yang lebih dulu  menetap di Masjidil Haram.

Awal kemerdekaan RI beliau memimpin misi ke beberapa negara Timur Tengah. Hasilnya  RI memperoleh pengakuan de jure dari negara-negara tersebut. Beliau pernah beberapa kali jadi Menteri Luar Negeri.

Syekh Zainuddin Labay el Yunusy  (1890-1924)
Lahir di Lubuk Mata Kucing, Padang panjang, 12 Rajab 1308. Labai, panggilan terhormat bagi seorang yang alim, sedang Yunusy, nama orangtuanya Yunus. dikenal sebagai Tuanku Pandai Sikek, desa asal beliau di kaki gunung Singgalang. Beliau anak sulung  pasangan Yunus dan Rafi’ah, sedang adik kedua Rahmah yang kemudian populer dengan nama Sitti Rahmah el Yunusiyah, pendiri sekolah Diniyah Puteri Padangpanjang. Zainuddin mendirikan sekolah Diniyah School tahun 1916 ketika berusia 26 tahun.

Nama sekolahnya kombinasi bahasa Arab dan Belanda, untuk memberi gambaran ide pembaharuan  Sistem pendidikannya, gandrung  modern. Beliau pun  merevolusikan sistem halaqah ke sistem klasikal. Guru tidak pakai sarung lagi. berkopiah tarbusy, dan sandal, tapi pakai pantalon, jas, dasi, dan bersepatu. Beliau  pun menolak tawaran uang subsidi Pemerintah Belanda.

Syehk Abdul Hamid Hakim (1893-1959)
Beliau kemudian populer dengan nama Angku Mudo Hamid. Lahir di Sumpu, tepi danau Singkarak tahun 1311 H atau 1893 M. Ikut ayah seorang pedagang ke Kota Padang. Disini ia masuk Sekolah Dasar (SD) dan setamatnya kembali ke kampung belajar tulis-baca Al Quran, lalu melanjutkan dua tahun di Sungayang belajar pada Syekh Mohammad Thaib Umar.

Ketika berusia 16 tahun, belajar ke Maninjau pada Syekh Karim Amarullah. Ketika itu tahun 1910, dengan Syekh Amarullah juga, pindah ke Padang, dimana orangtuanya  berdagang di kota ini. Waktu Amarullah pindah lagi ke Padangpanjang, Hamid tetap ikut. Diangkat jadi guru bantu di masjid Jembatan Besi. Sejak itulah beliau dipanggil sebagai Angku Mudo. Ahli fiqih (hukum Islam) ini kemudian diangkat jadi Guru Kepala, mengganti Syekh Abdul Karim Amarullah karena  doktor ini pindah ke Jakarta.

Pernah seorang reserse bertanya kepada beliau: “Kenapa murid aktif dalam dunia politik? Entahlah, saya juga heran. Satu saya ajarkan, empat mereka dapat. Saya tak pernah menyuruh mereka aktif dalam politik,” jawab Angku Mudo.

Murid beliau antara lain; Sutan Mansyur, mantan Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah, Zainal Abidin Ahmad mantan Wakil Ketua Parlemen, Buya Datuk Palimo Kayo, ulama/sastrawan besar Hamka, Muchtar Yahya, guru besar IAIN Yogya, Ali Hasymi mantan Gubernur Aceh, dan tokoh politik singa betina Rasuna Said.

Syeikhah Rahmah el Yunusyiah (1900-1969)
Lahir 26 Oktober 1900. Beliau adalah adik kandung Zainuddin Labay el Yunusy. Tahun 1915 mendirikan lembaga pendidikan khusus puteri Diniyah Putri. Kiprahnya dalam dunia pendidikan Islam seperti ikut jejak kakaknya. Murid-muridnya datang dari seantero Sumatera Barat. Juga dari provinsi lain, bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura.

Beliau tidak menutup pintu untuk ilmu pengetahuan modern. Disini  tidak hanya diajarkan pengetahuan agama, juga keterampilan jahit-menjahit dan masak-memasak, sehingga kelak mereka jadi ibu rumah tangga Islami. Tahun 1955 Rektor Universitas Al Azhar Kairo, pernah mengunjungi Diniyah Puteri. Kunjungan ini dapat balasan. Tahun 1956, Rahmah diundang  ke Mesir.

Syekh Zainuddin Hamidy (1907-1957)
Setelah tamat sekolah Governement (Sekolah Dasar lima tahun) di Payakumbuh, melanjutkan pendidikan di Madrasah Darul Funuin  Padangjapang, Suliki. Beliau murid terpandai di madrasah tersebut. Tahun 1927 lebih kurang lima tahun melanjutkan  ke Mahad Islamy  Makkah.  Beliau siswa Indonesia pertama disini. Karena pintar, beroleh pula beasiswa.

Tahun 1932, Zainuddin pulang kampung ke Payakumbuh. Dalam usia 25 tahun dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai ilmu.  Hafal Al Quran (hafizh), ahli hadist, tafsir, tauhid dan fiqih, sehingga beliau dapat julukan Angku Mudo. Beliau membuka perguruan Mahad Islamy, nama kenangan tempat beliau belajar di Makkah dulu.

Mahad Islamy berkembang dengan pesat. Selain siswanya datang dari berbagai negeri di Sumbar, juga banyak  dari Malaysia, dan Riau. Masyarakat  ringan  memberi bantuan wakaf dan beberapa orang sebagai donatur. Namun, sebaliknya datang hambatan  pihak pemerintah jajahan.  Cemburu karena sukses. Ada di antara gurunya Johar Arifin  dikenakan tidak boleh mengajar. Bila menghadapi masalah yang amat sulit, pendapat Zainuddin Hamidy jadi qaulun fashlun (kata pemutus).

Syekh Nazaruddin Thaha (1908-1979)
Lahir 4 Maret 1908 di Payakumbuh, putera tertua Syekh Thaha Arsyad. Setelah tamat Sekolah Dasar Sambungan, melanjutkan ke Madrasah Sumatra Thawalib Darul Funun Padangjapang. Tahun 1926 masuk perguruan tinggi Darul Ulum dan Universitas al Azhari Kairo, seangkatan Mahmud Yunus, Muchtar Yahya dan lain-lain.

Selama lebih kurang tujuh tahun di Mesir, beliau  aktif di Persatuan Pelajar Indonesia-Malaysia (Perpidom), organisasi pergerakan untuk merebut kemerdekaan tanah air. Pulangnya sebagian besar putera-putera Minang tahun 1930-an, membawa angin segar dunia pendidikan di daerah ini.

Tahun 1946, Nazaruddin Thaha ditunjuk  pertama kali mengepalai Kantor Agama Sumatera Tengah, meliputi daerah kerja Sumbar, Jambi dan Riau. Beliau membentuk Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah-daerah. Pada waktu itu pulalah pengarang buku-buku agama dalam bahasa Arab ini, merancang Undang-undang Perkawinan. Buku-buku tersebut antara lain Abthalul Islam, al Mahfuzadzat, Fanuttarbiyah, dan lain-lain.

Oleh: Marthias Dusky Pandoe 


sumber:http://www.facebook.com/?ref=logo#!/notes/minangkabau/risau-siapa-pelanjut-ulama-besar-minangkabau/485735274591

MINANGKABAU DALAM SEJARAH DAN TAMBO

Kata Minangkabau mengandung banyak pengertian. Minangkabau dipahamkan sebagai sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut budaya Minangkabau. Kawasan budaya Minangkabau mempunyai daerah yang luas. Batasan untuk kawasan budaya tidak dibatasi oleh batasan sebuah propinsi. Berarti kawasan budaya Minangkabau berbeda dengan kawasan administratif Sumatera Barat.

Minangkabau dipahamkan pula sebagai sebuah nama dari sebuah suku bangsa, suku Minangkabau. Mempunyai daerah sendiri, bahasa sendiri dan penduduk sendiri.
Minangkabau dipahamkan juga sebagai sebuah nama kerajaan masa lalu, Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Sering disebut juga kerajaan Pagaruyung, yang mempunyai masa pemerintahan yang cukup lama, dan bahkan telah mengirim utusan-utusannya sampai ke negeri Cina. Banyaknya pengertian yang dikandung kata Minangkabau, maka tidak mungkin melihat Minangkabau dari satu pemahaman saja.

Membicarakan Minangkabau secara umum mendalami sebuah suku bangsa dengan latar belakang sejarah, adat, budaya, agama, dan segala aspek kehidupan masyarakatnya. Mengingat hal seperti itu, ada dua sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam mengkaji Minangkabau, yaitu sumber dari sejarah dan sumber dari tambo. Kedua sumber ini sama penting, walaupun di sana sini, pada keduanya ditemui kelebihan dan kekurangan, namun dapat pula saling melengkapi.

Menelusuri sejarah tentang Minangkabau, sebagai satu cabang dari ilmu pengetahuan, maka mesti didasarkan bukti-bukti yang jelas dan otentik. Dapat berupa peninggalan-peninggalan masa lalu, prasasti-prasasti, batu tagak (menhir), batu bersurat, naskah-naskah dan catatan tertulis lainnya. Dalam hal ini, ternyata bukti sejarah lokal Minangkabau termasuk sedikit.

Banyak catatan dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tentang Minaangkabau atau Sumatera West Kunde, yang amat memerlukan kejelian di dalam meneliti. Hal ini disebabkan, catatan-catatan dimaksud dibuat untuk kepentingan pemerintahan Belanda, atau keperluan dagang oleh Maatschappij Koningkliyke VOC.

Tambo atau uraian mengenai asal usul orang Minangkabau dan menerakan hukum-hukum adatnya, termasuk sumber yang mulai langka di wilayah Minangkabau sekarang. Sungguhpun, penelusuran tambo sulit untuk dicarikan rujukan seperti sejarah, namun apa yang disebut dalam tambo masih dapat dibuktikan ada dan bertemu di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Tambo diyakini oleh orang Minangkabau sebagai peninggalan orang-orang tua. Bagi orang Minangkabau, tambo dianggap sebagai sejarah kaum. Walaupun, di dalam catatan dan penulisan sejarah sangat diperhatikan penanggalan atau tarikh dari sebuah peristiwa, serta di mana kejadian, bagaimana terjadinya, bila masanya, dan siapa pelakunya, menjadikan penulisan sejarah otentik. Sementara tambo tidak terlalu mengutamakan penanggalan, akan tetapi menilik kepada peristiwanya. Tambo lebih bersifat sebuah kisah, sesuatu yang pernah terjadi dan berlaku.

Tentu saja, bila kita mempelajari tambo kemudian mencoba mencari rujukannya sebagaimana sejarah, kita akan mengalami kesulitan dan bahkan dapat membingungkan. Sebagai contoh; dalam tambo Minangkabau tidak ditemukan secara jelas nama Adhytiawarman, tetapi dalam sejarah nama itu adalah nama raja Minangkabau yang pertama berdasarkan bukti-bukti prasasti.

Dalam hal ini sebaiknya sikap kita tidak memihak, artinya kita tidak menyalahkan tambo atau sejarah. Sejarah adalah sesuatu yang dipercaya berdasarkan bukti-bukti yang ada, sedangkan tambo adalah sesuatu yang diyakini berdasarkan ajaran-ajaran yang terus diturunkan kepada anak kemenakan.

Minangkabau menurut sejarah

Banyak ahli telah meniliti dan menulis tentang sejarah Minangkabau, dengan pendapat, analisa dan pandangan yang berbeda. Tetapi pada umumnya mereka membagi beberapa periode kesejarahan; Minangkabau zaman sebelum Masehi, zaman Minangkabau Timur dan zaman kerajaan Pagaruyung. Seperti yang ditulis MD Mansur dkk dalam Sejarah Minangkabau, bahwa zaman sejarah Minangkabau pada zaman sebelum Masehi dan pada zaman Minangkabau Timur hanya dua persen saja yang punya nilai sejarah, selebihnya adalah mitologi, cerita-cerita yang diyakini sebagai tambo.

Prof Slamet Mulyana dalam Kuntala, Swarnabhumi dan Sriwijaya mengatakan bahwa kerajaan Minangkabau itu sudah ada sejak abad pertama Masehi.

Kerajaan itu muncul silih berganti dengan nama yang berbeda-beda. Pada mulanya muncul kerjaan Kuntala dengan lokasi sekitar daerah Jambi pedalaman. Kerajaan ini hidup sampai abad ke empat. Kerajaan ini kemudian berganti dengan kerajaan Swarnabhumi pada abad ke lima sampai ke tujuh sebagai kelanjutan kerajaan sebelumnya. Setelah itu berganti dengan kerajaan Sriwijaya abad ke tujuh sampai 14.

Mengenai lokasi kerajaan ini belum terdapat kesamaan pendapat para ahli. Ada yang mengatakan sekitar Palembang sekarang, tetapi ada juga yang mengatakan antara Batang Batang Hari dan Batang Kampar. Candi Muara Takus merupakan peninggalan kerajaan Kuntala yang kemudian diperbaiki dan diperluas sampai masa kerajaan Sriwijaya. Setelah itu muncul kerajaan Malayapura (kerajaan Melayu) di daerah yang bernama Darmasyraya (daerah Sitiung dan sekitarnya sekarang). Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian dipindahkan oleh Adhytiawarman ke Pagaruyung. Sejak itulah kerajaan itu dikenal dengan kerajaan Pagaruyung.

Menurut Jean Drakar dari Monash University Australia mengatakan bahwa kerajaan Pagaruyung adalah kerajaan yang besar, setaraf dengan kerajaan Mataram dan kerajaan Melaka. Itu dibuktikannya dengan banyaknya negeri-negeri di Nusantara ini yang meminta raja ke Pagaruyung, seperti Deli, Siak, Negeri Sembilan dan negeri-negeri lainnya.

Minangkabau menurut tambo.

Dalam bentuk lain, tambo menjelaskan pula tentang asal muasal orang Minangkabau. Tambo adalah satu-satunya keterangan mengenai sejarah Minangkabau. Bagi masyarakat Minangkabau, tambo mempunyai arti penting, karena di dalamtambo terdapat dua hal:

(1) Tambo alam, suatu kisah yang menerangkan asal usul orang Minangkabau semenjak raja pertama datang sampai kepada masa kejayaan kerajaan Pagaruyung.
(2) Tambo adat, uraian tentang hukum-hukum adat Minangkabau. Dari sumber inilah hukum-hukum, aturan-aturan adat, dan juga berawalnya sistem matrilineal dikembangkan.

Di dalam Tambo alam diterangkan bahwa raja pertama yang datang ke Minangkabau bernama Suri Maharajo Dirajo. Anak bungsu dari Iskandar Zulkarnain. Sedangkan dua saudaranya, Sultan Maharaja Alif menjadi raja di benua Rum dan Sultan Maharajo Dipang menjadi raja di benua Cina. Secara tersirat tambo telah menempatkan kerajaan Minangkabau setaraf dengan kerajaan di benua Eropa dan Cina. Suri Maharajo Dirajo datang ke Minangkabau ini, di dalam Tambo disebut pulau paco lengkap dengan pengiring yang yang disebut; Kucing Siam, Harimau Campo, Anjiang Mualim, Kambiang Hutan.

Masing-masing nama itu kemudian dijadikan “lambang” dari setiap luhak di Minangkabau. Kucing Siam untuk lambang luhak Tanah Data, Harimau Campo untuk lambang luhak Agam dan Kambiang hutan untuk lambang luhak Limo Puluah. Suri Maharajo Dirajo mempunya seorang penasehat ahli yang bernama Cati Bilang Pandai.

Suri Maharajo Dirajo meninggalkan seorang putra bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian dikenal dengan Datuk Katumanggungan pendiri sistem kelarasan Koto Piliang. Puti Indo Jalito, isteri Suri Maharajo Dirajo sepeninggalnya kawin dengan Cati Bilang Pandai dan melahirkan tiga orang anak, Sutan Balun, Sutan Bakilap Alam dan Puti Jamilan. Sutan Balun kemudian dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang pendiri kelarasan Bodi Caniago.

Datuk Katumanggungan meneruskan pemerintahannya berpusat di Pariangan Padang Panjang kemudian mengalihkannya ke Bungo Sitangkai di Sungai Tarab sekarang, dan menguasai daerah sampai ke Bukit Batu Patah dan terus ke Pagaruyung.

Maka urutan kerajaan di dalam Tambo Alam Minangkabau adalah:

(1) Kerajaan Pasumayan Koto Batu,
(2) Kerajaan Pariangan Padang Panjang
(3) Kerajaan Dusun Tuo yang dibangun oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang
(4) Kerajaan Bungo Sitangkai
(5) Kerajaan Bukit Batu Patah dan terakhir
(6) Kerajaan Pagaruyung.

Menurut Tambo Minangkabau, kerajaan yang satu adalah kelanjutan dari kerajaan sebelumnya. Karena itu, setelah adanya kerajaan Pagaruyung, semuanya melebur diri menjadi kawasan kerajaan Pagaruyung.

Kerajaan Dusun Tuo yang didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, karena terjadi perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih nan Sabatang, maka kerajaan itu tidak diteruskan, sehingga hanya ada satu kerajaan saja yaitu kerajaan Pagaruyung. Perbedaan paham antara kedua kakak beradik satu ibu ini yang menjadikan sistem pemerintahan dan kemasyarakatan Minangkabau dibagi atas dua kelarasan, Koto Piliang dan Bodi Caniago.

Dari uraian tambo dapat dilihat, bahwa awal dari sistem matrilineal telah dimulai sejak awal, yaitu dari “induknya” Puti Indo Jalito. Dari Puti Indo Jalito inilah yang melahirkan Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Namun, apa yang diuraikan setiap tambo punya berbagai variasi, karena setiap nagari punya tambo.

Dr. Edward Jamaris yang membuat disertasinya tentang tambo, sangat sulit menenyukan pilihan. Untuyk keperluan itu, dia harus memilih salah satu tambo dari 64 buah tambo yang diselidikinya. Namun pada umumnya tambo menguraikan tentang asal usul orang Minangkabau sampai terbentuknya kerajaan Pagaruyung.

 Sumber:  http://www.facebook.com/note.php?note_id=192401089591

Asal Mula Nama Gunung Krakatau dari Orang Minang, Mungkinkah? (Opini Sejarah dan Bahasa)

Gunung Krakatau yang berada di selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatera, merupakan gunung api Indonesia yang mungkin paling terkenal di dunia. Hal itu dimungkinkan karena letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883 yang sempat menggemparkan dunia. Bahkan daya ledak Krakatau diperkirakan mencapai 30.000 bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki Jepang pada perang dunia ke II. Oleh karena itu, gunung Krakatau jadi terkenal ke seluruh dunia.Menyangkut asal mula nama Krakatau pada gunung api itu, sementara ini beberapa ahli memperkirakan dari berbagai kemungkinan. Seperti diberitakan Kompas.comMinggu 11 Desember 2011 di http://regional.kompas.com/read/2011...ngga.Kagak.Tau
"Suryadi (2009) menyebutkan, setidaknya ada tiga versi asal mula nama Krakatau. Pertama dari bahasa Sanskerta, karkataka, karkata, atau karka, yang artinya 'kepiting' atau 'lobster'. Kedua, penamaan itu diambil dari bunyi mirip suara beo putih yang pernah menghuni daerah itu. Ketiga, dari kosakata bahasa Melayu, kelakatu, yang berarti 'semut bersayap putih.
Selain itu, menurut Suryadi, ada juga cerita yang menyatakan tentang nama pulau itu muncul akibat sebuah kekeliruan berbahasa. Disebutkan bahwa ketika seorang kapten kapal bertanya kepada penduduk asli tentang nama pulau gunung api, yang disebut belakangan menjawab kagak tau, yaitu jargon dalam bahasa Betawi yang berarti 'saya tidak tahu'." (Kompas.com, 11/12/2011).
Kalau saya analisa perkiraan di atas, mungkin ada benarnya dan mungkin belum tentu benar. Saat saya menganalisa pada kemungkinan asal mula Krakatau dari kalakatu yang berarti semut berwarna putih dalam kosakata bahasa Melayu, saya malah jadi berpikir lain dan mempunyai perkiraan sendiri.
Kalakatu memang dikenal sebagai sejenis semut atau serangga yang bersayap di daerah Minangkabau Sumatera Barat. Kalakatu ini lebih mirip dengan rayap atau laron sebagai bagian dari koloni rayap yang biasanya suka terbang pada awal musim hujan.
Maka dari itu, analisa saya sepertinya kalakatu tidak terlalu berhubungan erat dengan lokasi sebuah gunung api, dimana serangga tersebut biasanya juga tersebar rata di seluruh dunia. Terutama di daerah yang iklimnya lembab dan tropis. Intinya tidak hanya di gunung api (Krakatau) itu saja serangga jenis rayap, laron dan semut bersayap putih (kalikatu) tersebut bisa hidup dan berkembang biak.
Berangkat dari analisa di atas, saya sempat terpikir. Jangan-jangan asal mula nama gunung Krakatau diambil dari nama sebuah pohon yang biasanya tumbuh subur di daerah tropis. Pohon itu bernama Meranti yang dalam bahasa Minang juga disebut pohon Madang dan atau pohon Karatau. Madang dan Karatau ini adalah tutur bahasa orang tua-tua minang saisuak (jaman dulu).
Pengucapan kosakata madang dan karatau ini sebenarnya masih tetap awet atau dilestarikan sampai sekarang. Itu bisa dibuktikan dari beberapa pantun yang masih sering diucapkan oleh orang Minang. Seperti pantun yang saya kutip di Cimbuak.net salah satu situs online untuk bergurau atau media silaturahmi orang Minang. Pantun ini lengkap dengan arti dan tafsir sampiran seperti di bawah ini.
"Karatau madang dihulu,


Babuah babungo balun.


Marantau bujang dahulu,


Dirumah paguno balun.


Artinya :


Keratau medang dihulu,


Berbuah berbunga belum.


Merantau bujang dahulu,


Dirumah berguna belum.Tafsir sampiran :
Karatau madang dihulu, babuah babungo balun. Karatau adalah nama jenis kayu madang (meranti), yang cukup baik mutunya. Kayu ini tumbuah disebelah hulu sungai, masih muda, belum berbuah dan belum berbunga." (Cimbuak.net)



Dari analisa dan bukti-bukti sejarah yang saya coba kemukakan di atas, maka bisa saja di lokasi gunung yang sekarang dikenal dengan nama Krakatau tersebut, dahulunya mungkin terkenal atau dikenal dengan hutan yang dipenuhi atau ditumbuhi banyak pohon Meranti.

Yang mana hutan Meranti di gunung api tersebut, lebih lazim dan lebih terbiasa diucapkan oleh orang Minang yang kebetulan dari dulu suka merantau, dengan sebutan hutan Madang atau hutan Karatau. Maka mungkin saja setelah itu, akhirnya gunung api tersebut jadi terbiasa disebut dengan hutan Karatau atau hutan gunung Karatau.Namun karena mungkin sering terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat, akhirnya ucapan Karatau tersebut berubah menjadi Krakatau.
Bagaimana menurut pendapat Anda, mungkinkah?
Sumber referensi dari: Kompas.com dan Cimbuak.net

PRRI, pemberontak atau pahlawan??

Pemerintahan Revolusioner Republik (PRRI). Pada tahun 1958-1962. Sejumlah panglima divisi Banteng dan staf-stafnya yang meliputi Kolonel Ahmad Husein, Kolonel Tapanuli, Kolonel Simbolon, bersama sejumlah politisi seperti M. Natsir, Sumitro Djayahadikusumo, M. Hatta, dan membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berkedudukan di Bukittinggi. Maksud dari PRRI ini adalah untuk memperingatkan Yang Mulia Presiden Soekarno yang sudah bertindak sewenang wenang. Kecemburuan pusat-daerah turut pula memperkeruh suasana. Kondisi pada tahun 1950-an mirip dengan kondisi sekarang. Soekarno membangun Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan membangun proyek-proyek mercu suar seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, dan Stadion Gelora Senayan dan sejumlah patung. 
Sementara daerah dibiarkan miskin dan melarat.  Soekarno mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup. Hal ini tidak disukai oleh panglima-panglima militer yang ada di daerah. Apalagi Soekarno menggunakan sentimen etnis dan ideologi. Soekarno terlalu dekat dengan PKI yang tidak disukai oleh kelompok Islam dan nasionalis. Panglima-panglima militer di daerah mulai mengadakan gerakan. Sejumlah politisi di Jakarta juga sudah mulai bergerak. Wakil presiden Muhammad Hatta, tokoh politisi dari Partai Sosialis Indonesia (PSI), Sumitro Djojohadikusumo, dan tokoh Masyumi Muhammad Natsir turut dalam rapat-rapat rahasia bersama tokoh PRRI dan tokoh Persatuan Rakyat Semesta (Permesta), Vence Sumual. Soekarno tak suka ekonomi. Ia lebih suka membangun ideologi revolusioner. 
Oleh karena itu, pembangunan ekonomi pada masa itu mandek. Indonesia memang kekuatan militer terbesar di Asia Tenggara dan Asia (setelah Cina). AS tak suka pada Soekarno.  Soekarno menganggap PRRI/Permesta sebagai kenakalan anak-anak. Soekarno memang menganggap dirinya sebagai Bapak sedangkan para politisi dan perwira militer sebagai anak-anaknya. Soekarno adalah orang yang pandai bermain peran. Ia pandai menempatkan diri. Ketika menghadapi kelompok Islam ia pandai bermain peran sebagai muslim yang baik. Upaya Diplomasi Pada awalnya Soekarno tidak ingin menghadapi PRRI dengan kekerasan. Soekarno mengutus Hasjim Ning, pengusaha, saudara Bung Hatta, untuk menghadap Kolonel Ahmad Husein di Padang. Kolonel Ahmad Husein mengajukan sejumlah tuntutan antara lain: retool kabinet, bung Hatta didudukkan kembali Wakil Presiden, dan keadilan pusat-daerah. 
Semua tuntutan ini ditolak oleh Soekarno. Ia menganggap Ahmad Husein sebagai Anak Bandel dan harus segera diberi pelajaran. Kolonel Ahmad Husein adalah bukan orang sembarangan. Ia adalah panglima Divisi Banteng/Sumatra Timur yang berjasa mengusir tentara NICA dari Sumatra Timur. Dan tentara Divisi Banteng dikenal tangguh dalam berperang. Mereka berpengalaman menghadapi Belanda. Oleh karena itu Soekarno tidak boleh main-main. Ia harus menyiapkan tentara terbaik untuk menyerbu Padang. Presiden Soekarno mengutus Jenderal Ahmad Yani untuk menyiapkan operasi tempur yang diberi nama Operasi 17 Agustus. Jenderal Ahmad Yani menyiapkan sejumlah Batalyon terutama dari Kodam IV Diponegoro dan Kodam II Siliwangi. Letjen Soeharto ditetapkan sebagai pelaksana lapangan. Serbuan pertama dilaksanakan dengan operasi pendarat Amphibi di pantai Padang. Sekitar lima jam, kapal-kapal ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) dengan menghujani pantai Padang yang dipertahankan mati-matian oleh pasukan PRRI. Jelas kekuatan ALRI bukanlah tandingan pasukan PRRI. Kekuatan ALRI adalah yang terkuat di Asia. 
Selanjutnya diteruskan dengan operasi pendaratan pasukan Amphibi di pantai Padang berikut tank-tank dan artileri. Lalu dilanjutkan oleh penerjunan pasukan parasut (paratrooper) di kota Padang dan Bukittingi. Serbuah ini menimbulkan banyak korban jiwa baik tentara Jawa maupun tentara PRRI. Pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) membomi titik-titik penting pasukan PRRI. Pasukan Jawa akhirnya berhasil menguasai Padang. Serbuan ofensif lalu hingga ke lembah Anai. Serbuan ini ditahan oleh pasukan PRRI dalam suatu pertempuran yang paling berdarah dalam sejarah PRRI. Pasukan PRRI mundur ke hutan-hutan. Soekarno mengadakan gerilya di daerah perkampungan dan perkotaan. Dalam proses itu, ratusan dan ribuan orang diciduk. Sebagian mati dalam tahanan. Pasukan KODAM Siliwangi dikenal berperilaku lebih baik daripada pasukan dari KODAM Diponegoro. 
Selain berasal dari etnis Sunda, pasukan KODAM Siliwangi berperilaku lebih halus dan agamis. Sedangkan pasukan KODAM IV Diponegoro berperilaku kasar. Mereka menganggap diri sebagai pemenang perang dan mengulangi kisah sukses ekspedisi Pamalayu untuk menaklukkan Sumatra. Atas bujuk rayu sejumlah tokoh, kolonel Ahmad Husein menyerahkan diri kepada Gubernur Bagindo Aziz Chan dan Letjen Supeno di sebuah lapangan di Solok. Ahmad Husein menyerah bukan karena kalah tapi demi keutuhan republik. Pasukan PRRI masih banyak tersebar di hutan-hutan. Ahmad Husein ditangkap dan dibawa menghadap Presiden
Soekarno.

HiTAM PUTiH

ABOUT ME

BANNER SAHABAT